
Isra Mikraj (Isra’ Miraj) secara umum diperingati setiap 27 Rajab, yang pada tahun ini (1444 Hijriah) bertepatan dengan Sabtu, 18 Februari 2022. Nabi Muhammad saw. diperjalankan dari Ka’bah ke Baitul Maqdis (isra), lantas dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha (mikraj) hanya dengan waktu 1 malam.
Peristiwa Isra dan Mikraj terjadi pada 621 Masehi, atau tahun setelah Nabi Muhammad saw. melepas kepergian paman beliau, Abu Thalib dan istri tercinta, Khadijah. Jelang Isra dan Mikraj, Nabi bermalam di rumah sepupu beliau, Hindun binti Abu Talib, atau juga dikenal dengan nama Ummu Hani’.
Setelah tidur sejenak, Nabi bangun dan mengunjungi Ka’bah. Di sana, rasa kantuk menyergap beliau hingga terlelap. Saat itulah, Jibril datang, lantas membangunkan Nabi hingga 3 kali.
Oleh Jibril, Nabi dibawa mendekati buraq, yang mirip kuda bersayap putih susu. Dengan perantaraan buraq inilah Rasulullah dan Jibril melintasi malam, terbang di atas jalur kafilah yang sangat dikenal beliau, hingga sampai di Baitul Maqdis, Yerusalem.
Di tempat tersebut, Rasulullah mengerjakan salat berjemaah, menjadi imam para nabi terdahulu. Beliau ditawari gelas berisi anggur dan susu. Nabi memilih susu.
Dari Baitul Maqdis, Nabi Muhammad saw. melakukan mikraj, melampaui ruang dan waktu, melintasi tujuh langit, dan bertemu dengan beberapa nabi terdahulu, yaitu Adam di langit pertama, Isa di langit kedua, Yusuf di langit ketiga, Idris di langit keempat, Harun di langit kelima, Musa di langit keenam, dan Ibrahim di langit ketujuh.
Nabi Muhammad saw. akhirnya tiba di sidratul muntaha, simbol puncak pengetahuan yang mungkin dicapai oleh makhluk. Segala sesuatu di atasnya adalah misteri tersembunyi yang hanya diketahui oleh Allah semata.
Hal ini dilukiskan dalam Surah an-Najm:16-18, “(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.”
Hikmah Isra Miraj dan Perintah Salat
Di sidratul-muntaha, Nabi Muhammad saw. mendapatkan perintah salat 50 kali dalam sehari semalam bagi umat beliau. Nabi kemudian turun, tetapi ketika melewati Musa, beliau ditanyai tentang jumlah kewajiban salat. Nabi Musa menyebut salat 50 kali terlalu berat, sedangkan umat Rasulullah lemah.
Atas saran Musa, Nabi Muhammad saw. sekali lagi menghadap kepada Allah untuk memohon keringanan. Jumlah kewajiban salat dikurangi.
Namun, setiap kali Rasulullah bertemu Musa, beliau diingatkan untuk memohon keringanan kembali. Sampai akhirnya, Nabi Muhammad saw. mendapatkan kewajiban salat 5 kali sehari.
Nabi Musa masih menyarankan agar Rasulullah sekali lagi menghadap Allah. Namun, Nabi Muhammad saw. berkata, “Aku sudah berkali-kali menghadap Tuhanku, memohon hingga merasa malu”.
Pengaruh Isra dan Mikraj bagi Umat Islam
Ketika pagi hari tiba, Nabi Muhammad saw. yang sudah tiba di rumah Ummu Hani mengisahkan dua peristiwa luar biasa tersebut kepada sang sepupu.
Mendengar cerita itu, Ummu Hani membujuk Rasulullah untuk tidak menyebarkannya kepada orang-orang. Di tengah kebencian kaum kafir Quraisy, kisah tadi akan mudah jadi bahan olokan untuk menyerang Islam.
Namun, Nabi Muhammad saw. berkeras untuk menyampaikan peristiwa yang dialami beliau semalam. Kaum kafir Quraisy merasa mendapatkan momentum. Jika banyak orang mendengar kisah itu, para pengikut Muhammad diperkirakan akan yakin bahwa pemimpin mereka gila.
Peristiwa Isra dan Mikraj sampai pula di telinga Abu Bakar. Awalnya, ia mengira ini hanyalah dusta yang dikarang oleh para musuh Rasulullah. Namun, ketika diberitahu, Nabi sendiri yang bercerita, Abu Bakar langsung yakin, peristiwa itu benar adanya.
“Dan kalaupun demikian yang dikatakan, tentu beliau bicara yang sebenarnya. Beliau mengatakan kepadaku, bahwa ada berita dari Tuhan, dari langit ke bumi, pada waktu malam atau siang, dan aku meyakini. Yang kalian permasalahkan cuma sepele saja.”
Dari keyakinan Abu Bakar terhadap Rasulullah inilah, gelar untuknya, ash-Shiddiq, disematkan. Ash-Shiddiq bermakna saksi kebenaran atau orang yang meyakini kebenaran.
Isra dan Mikraj menjadi ujian bagi umat Islam dalam meyakini agama dan jalan hidup mereka secara menyeluruh. Percaya atau tidaknya seseorang terhadap peristiwa ini tidak berpengaruh pada Allah dan ajaran-Nya. Namun, orang yang mendapatkan hikmah akan lebih dalam keyakinannya kepada Tuhan.
Allah berfirman dalam Surah al-Isra:107, “Katakanlah (Muhammad), “Berimanlah kamu kepadanya (Al-Qur’an) atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al-Qur’an) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud.”
Isra dan Mikraj penting karena di dalamnya terdapat kandungan perintah salat kepada umat Nabi Muhammad saw.
Salat pada hakikatnya adalah kebutuhan mutlak untuk mewujudkan manusia seutuhnya, kebutuhan yang tidak hanya meliputi akal pikiran, tetapi jiwa manusia. Salat menjadi pintu gerbang yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya.
Ayat-ayat Al Quran tentang Peristiwa Isra Mikraj
1. Surah Al-Isra Ayat 1
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ – ١
Arab Latin: sub-ḥānallażī asrā bi’abdihī lailam minal-masjidil-ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣallażī bāraknā ḥaulahụ linuriyahụ min āyātinā, innahụ huwas-samī’ul-baṣīr
Artinya: “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al Isra [17]:1)
2. Surah An-Najm Ayat 13-18
وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ – ١٣
Arab Latin: Wa laqad ra`āhu nazlatan ukhrā
Artinya: “Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,” (QS. An Najm [53]:13)
عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى – ١٤
Arab Latin: ‘inda sidratil-muntahā Artinya:
“(Yaitu) di Sidratul Muntaha,” (QS. An Najm [53]:14)
عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ – ١٥
Arab Latin: ‘indahā jannatul-ma`wā
Artinya: “Di dekatnya ada surga tempat tinggal,” (QS. An Najm [53]:15)
اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ – ١٦
Arab Latin: Iż yagsyas-sidrata mā yagsyā
Artinya: “(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya,” (QS. An Najm [53]:16)
مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى – ١٧
Arab Latin: Mā zāgal-baṣaru wa mā ṭagā
Artinya: “Penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.” (QS. An Najm [53]:17)
لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى – ١٨
Arab latin : Laqad ra`ā min āyāti rabbihil-kubrā
Artinya: “Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar. (QS. An Najm” [53]:18)